Alat Musik Daerah Indonesia Bag.2

Alat Musik Daerah Indonesia Bag.2 | TradisiKita - Pada kesempatan yang lalu kita sudah mengenal sekitar 52 Alat Musik Tradisional Indonesia. Pada kesempata kedua ini, kita akan meneruskan untuk mengenal berbagai alat musik daerah tersebut , dimulai dari Provinsi Bali.

Berbagai alat musik daerah ini merupakan rangkuman dari artikel-artikel kami yang membahas secara khusus alat musik daerah di tiap-tiap provinsi di Indonesia.

Dengan demikian, diharapkan Sobat Tradisi lebih mudah mencari dan mengenali alat musik daerah tertentu serta jika ingin melihat penjelasan yang lebih detil bisa mengunjungi halaman yang akan kami berikan tautannya diakhir penjelasan sebuah alat musik daerah.

Alat Musik Daerah Indonesia Bagian 2

Provinsi Bali

53. Gerantang

Gerantang merupakan alat musik yang terbuat dari bambu, disusun berderet seperti alat musik saron (dalam gamelan jawa) serta dibunyikan dengan cara dipukul dengan 2 alat pemukul khusus.

Alat musik daerah Bali ini banyak digunakan dalam berbagai acara yang menggunakan gamelan atau calung di Bali. 


54. Rindik


Alat musik daerah Bali yang disebut rindik ini berbahan dasar bambu, potongan bambu utuh ini dengan panjang yang berbeda diletakkan berjejer sebanyak 11-13 batang, sehingga setiap batang bambu utuh tersebut akan menciptakan suara yang berbeda. Bambu tersebutpun dipilih dari batang yang tidak mudah pecah dan yang menghasilkan suara baik dan nyaring.

Cara memainkan dengan cara memukulkan dua alat tabuh atau pemukul kayu dan dimainkan dengan dua tangan, memukul masing-masing batang bambu berbeda, sehingga menciptakan perpaduan suara yang indah dan merdu. Alat musik rindik digunakan sebagai pengiring dalam tari Bali joged bumbung yang merupakan kesenian rakyat yang cukup diminati.

55. Ceng Ceng


Seperti namanya ceng-ceng bunyi yang dihasilkan adalah suara “ceng” dengan ritme-ritme tertentu sebagai pelengkap sebuah gamelan ataupun dalam tabuh rindik. Ceng-ceng sendiri adalah alat musik daerah bali yang terbuat dari sebuah lempeng logam berbentuk piringan ataupun simbal yang terbuat dari bahan dasar tembaga berkualitas tinggi, sehingga menghasilkan suara yang nyaring. Ceng-ceng tersebut melengkapi sejumlah permainan kesenian musik tradisional seperti dalam pementasan semar pegulingan, gong kebyar, pelegongan, gong kebyar, barongan, gong gede dan baleganjur. Cara memainkan pun ada dua cara berbeda cara pertama dimainkan dengan memadukan kedua simbal tersebut, cara lainnya seperti dalam ceng-ceng ricik yang ukurannya lebih kecil, 6 buah simbal kecil yang dipasang menghadap ke atas diatas balok berbentuk kura-kura, kemudian dipadukan (dipukulkan) dengan 2 buah simbal kecil, sama-sama dimainkan dengan dua tangan. Dalam sebuah performa gamelan ataupun tabuh peran ceng-ceng sangat penting dan begitu menjolok bunyinya.

Selengkapnya : Alat Musik Bali

Provinsi Nusa Tenggara Timur

56. Sasado

Sasando adalah sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan dipetik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Suara sasando ada miripnya dengan alat musik dawai lainnya seperti gitar, biola, kecapi, dan harpa.

Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas kebawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.

57. Heo


Alat gesek (heo) terbuat dari kayu dan penggeseknya terbuat dari ekor kuda yang dirangkai menjadi satu ikatan yang diikat pada kayu penggesek yang berbentuk seperti busur (dalam istilah masyarakat Dawan ini terbuat dari usus kuskus yang telah dikeringkan). Alat ini mempunyai 4 dawai, dan masing-masing bernama :


  • dawai 1 (paling bawah) Tain Mone, artinya tali laki-laki
  • dawai 2 Tain Ana, artinya tali ana
  • dawai 3 Tain Feto, artinya tali perempuan
  • dawai 4 Tain Enf, artinya tali induk

Tali 1 bernada sol, tali 2 bernada re, tali tiga bernada la dan tali 4 bernada do.


58. Leko Boko / Bijol

 Alat musik petik ini terbuat dari labu hutan (wadah resonansi), kayu (bagian untuk merentangkn dawai), dan usus kuskus sebagai dawainya. Jumlah dawai sama dengan Heo yaitu 4, serta nama dawainya pun seperti yang ada pada Heo. Fungsi Leko dalam masyarakat Dawan untuk hiburan pribadi dan juga untuk pesta adat. Alat musik ini selalu berpasangan dengan heo dalam suatu pertunjukan, sehingga dimana ada heo, disitu ada Leko. Dalam penggabungan ini Lelo berperan sebagai pembei harmoni, sedangkan Heo berperan sebagi pembawa melodi atau kadang-kadang sebagai pengisi (Filter) Nyanyian-nyayian pada msyarkat Dawan umumnya berupa improvisasi dengan menuturkan tentang kejadian-kejadi an tang telah terjadi pda masa lampau maupun kejadian yang sedang terjadi (aktual).Dalam nyanyian ini sering disisipi dengan Koa (semaam musik rap). Koa ada dua macam yaitu, Koa bersyair dan Koa tak bersyair.


Nusa Tenggara Barat

59. Sarone

Sarone adalah sebuah alat musik tiup dari Kabupaten Bima Dompu yang termasuk golongan aerofon yang berlidah dan dimainkan dengan cara ditiup / ufi.

Alat musik tradisional Sarone dibuat dari dua bahan pokok yaitu buluh ( jenis bambu kecil) dan daun lontar. Lolo dan anak lolo terdiri atas bulu.. Pada lolo terdapat 6 (enam) bongkang ( lubang) di atas, dan satu lubang di bawah. Cara melubangi dilakukan dengan menggunakan kawat besar yang dibakar. Jarak antara lubang yang satu dengan yang lainnya diukur dengan mengambil ukuran keliling lolo. Sedang lubang yang ada di bawah, jaraknya ½ (setengah)dari jarak antara dua lubang diatas.


Sarone ada yang berlubang lima di atas dan ada yang berlubang 6 (enam) di atas. Sedang lubang dibawah tetap satu. Untuk yang mempunyai lima lubang, nada – nadanya adalah, do, re, mi, fa dan sol. Bila sarone ditup, nada do diperoleh dengan menutup semua lubang, baik lubang diatas maupun lubang di bawah. Nada re diperoleh dengan membuka lubang paling bawah.
Nada mi diperoleh dengan membuka dua lubang nada fa dengan membuka tiga lubang. Sedang nada sol diperoleh dengan menutup lubang kedua dari atas, sementara lubang – lubang yang lain dibuka. Pada serune yang memiliki enam lubang, bertambah satu nada yaitu nada si.

60. Palompong

Palompong adalah salah satu jenis alat musik tradisional dari Nusa Tenggara Barat yang dibunyikan dengan cara dipukul. Palompong, atau juga kerap disebut garompong, yakni alat musik tradisional yang biasa ditabuh saat menyambut musim panen di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.

Palompong yang mirip dengan alat musik saron khas Sunda atau cungklik khas Bali, terdiri atas tiga hingga lima bilah kayu pipih sepanjang 40 cm lebar lima cm. Bilah-bilah kayu dengan nadanya masing-masing, diletakkan di atas membran pemantul gema yang juga terbuat dari kayu. Cara menabuhnya, bilah-bilah tersebut dipukul menggunakan alat serupa palu yang juga terbuat dari kayu. Adapun bahan dasar alat musik palompong ini adalah sejenis kayu “kaleang” atau “elang”, yang kini sudah tidak banyak lagi tumbuh di hutan atau di ladang milik warga

Alunan tabuh palompong biasanya dilengkapi dengan alat musik kendang, gong dan terompet, yang lagi-lagi terbuat dari kayu.

61. Satong Srek

Satong Srek adalah sejenis alat musik Nusa Tenggara Barat yang terbuat dari bambu dan seng. Salah satu bagiannya diberi penampang berupa lempengan seng yang dibuat tajam dan kasar permukaannya. Jika permukaan seng digesek atau dipukul akan mengeluarkan bunyi. Alat musik ini dilengkapi dengan pemukul atau penggesek untuk membunyikannya.

Satong srek dimainkan sebagai alat musik tambahan dalam suatu bentuk orkestra kesenian tradisional dan dapat pula dimainkan secara solo / individual. Alat musik ini biasanya untuk mengiringi tarian nguri, syier male, badede, bulan kasandung, ngumang rame. Satong srek dapat juga dipadukan dengan alat-alat musik modern.

62.  Silu

Silu adalah salah satu jenis alat musik tradisional dari daerah Bima Dompu. alat musik ini termasuk dalam kategori jenis alat musik aerofon tipe hobo, karena silu memiliki lidah lebih dari satu. Lidah pada silu disebut pipi silu terdiri atas 4 lidah. Di daerah Bima ini, masyarakat mengenal beberapa golongan alat musik berdasarkan cara memainkannya. Golongan ini antara lain adalah Ufi (alat musik tiup), Bo-e (alat musik yang dipukul dengan tangan), Ko-bi (alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik), toke (alat musik yang dipukul dengan alat pemukul) dan Ndiri (alat musik yang dimainkan dengan cara digesek seperti biola). Dan Silu ini masuk dalam kategori alat musik ufi.

Bahan untuk membuat silu adalah kayu sawo yang sudah tua dan besarnya sesuai dengan keperluan, perak dan daun lontar.
Pada alat musik Silu, hal yang ditonjolkan adalah unsur musikal (suara), hal ini dapat dilihat dari tampilan Silu sendiri yang tidak memiliki ornamen atau warna-warna buatan kecuali warna asli dari bahan pembuat Silu itu sendiri.


Kalimantan Selatan

63 Panting

Panting merupakan alat musik yang dipetik yang berbentuk seperti gambus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Panting merupakan alat musik dari Kalimantan Selatan, pada umumnya adalah orang / masyarakat Banjar. Tokoh yang paling terkenal sebagai pemain Panting adalah A. Sarbaini. Dan ada juga grup-grup musik Panting yang lain. Tetapi sekarang ini seiring dengan adanya perkembangan zaman grup musik Panting menjadi semakin sedikit bahkan jarang ditemui.

64. Kurung - Kurung

Kurung-kurung adalah alat musik tradisional yang berasal dari Kabupaten Balangan Provinsi Kalimantan Selatan. Alat musik Kurung - kurung ini terbuat dari kayu panjang dan dibawahnya terbuat dari bambu dan peralatan lainnya. Musik ini bisa mengeluarkan bunyi setelah dihentak-hentak dulu ke tanah dan setiap alat musik mengeluarkan bunyi berbeda satu sama lain, sehingga bila pemainnya ingin menciptakan irama, maka caranya menghentakan alat itu secara bergantian sesuai irama yang dikehendaki

Alat musik peninggalan nenek moyang ini biasanya dimainkan saat upacara adat atau acara perkimpoian dan kenduri. Belakangan digunakan untuk acara perkimpoian, menyambut tamu atau pejabat ke kekampung atau acara kenduri lainnya. Namun keberadaan alat musik kurung-kurung saat ini hampir punah.

65. Bumbung

Alat musik bumbung dibuat dari bambu, merupakan alat musik tradisional Kalimantan Selatan. Bumbung sendiri berawal dari  bumbung “Bumbung lamang” (Beras ketan yang dibakar dalam bumbu) yang dimodifikasi menjadi alat musik diatonik, terdiri dari 7 nada dasar. Untuk membuat alat musik bumbung biasanya terbuat dari 2 ruas bambu.

Alat musik bumbung ini dapat ditemukan di Desa Berikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah.


Kalimantan Tengah

66. Kecapi Kalteng

Kecapi adalah salah satu alat musik tradisional khas yang dipergunakan oleh masyarakat suku dayak di Kalimantan Tengah.  Alat musik kecapi dari Kalimantan Tengah ini memiliki bentuk dan fungsi yang sama dengan alat musik sampe yang berasal dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur atau Kalimantan Utara. Akan tetapi, kecapi dari daerah Kalimantan Tengah khususnya dari suku dayak memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan dari alat musik sampe.

Perbedaan sampek dan kecapi khas dayak Kalimantan Tengah antara lain dari segi nada, nada Sampek adalah mayor, dan di mainkan dengan beat yang slow. Sedangkan Kecapi memiliki nada minor dengan jumlah 2 senar untuk rhythm dan 3 senar untuk lead nya, dimana pada sampek terdiri dari 5 senar.

Biasanya bermain kecapi ,selalu di iringi dengan permainan gendang ,gong ,suling juga rebab . Nah ,bermain kecapi wajib ditemani dengan nyanyian . Inilah yang di sebut dengan Karungut.

67. Sarun

Sarun adalah salah satu alat musik tradisional suku Dayak Kalimantan Tengah yang dibuat dari bahan logam / besi. Sarun ini sama dengan alat musik sar di Pulau Jawa, namun tentu saja memiliki suatu hal yang khas yang menjadikan sarun berbeda dari  saron. Sebut saja dari jumlah lempengan logam sarun yang hanya memiliki 5 buah lempeng sehingga memiliki nada Do, Re, Mi, Sol dan La berbeda dengan peralatan musik lainnya yang memiliki nada lengkap Do, Re, Mi, Fa, Sol, La dan Si.


Cara memainkan Sarun cukup dengan cara menabuhnya bergantian sesuai dengan nada yang ingin dihasilkan dari setiap lempengan-lempengan besi atau logam pada Sarun yang disusun secara berjajar pada bagian dasar.

Kalimantan Timur

68. Sape

Sampek atau sampe' adalah salah satu alat musik tradisional Suku Dayak di Provinsi Kalimantan Timur. ampe dalam bahasa lokal suku Dayak dapat diartikan “memetik dengan jari". Dengan mengetahui artinya kita sedikit memiliki gambaran bahwa alat musik sampek adalah alat musik yang dipetik. Namun demikian, alat musik ini banyak memiliki penamaan yang berbeda-beda diantara berbagai sub suku dayak yang ada di Pulau Kalimantan. Nama sampe’ digunakan oleh orang-orang suku Dayak Kenyah, orang-orang suku Dayak Bahau dan Kanyaan menyebutnya dengan nama sape’, suku Dayak Modang mengenal alat musik ini sebagai sempe, sedangkan orang-orang Dayak Tunjung dan Banua menamainya dengan sebutan kecapai’

 Alat musik tradisional Sampe' ini terbuat dari bahan kayu pilihan yang banyak terdapat di Kalimantan Timur, antara lain kayu meranti, kayu pelantan, kayu adau, kayu marang, kayu tabalok, dan sejenisnya. Jenis kayu-kayu itu dipilih karena kuat, tidak mudah pecah, keras, tahan lama, dan tidak mudah dirusak atau dimakan binatang seperti rayap. Semakin keras dan banyak urat daging kayunya, maka suara yang dihasilkan sampe akan semaki baik pula . Sedangkan  dawai atau senar sampe, pada awalnya masih menggunakan tali yang berasal dari serat pohon enau atau aren, namun sekarang senar sampe sering dibuat dari bahan kawat tipis sehingga bunyinya akan terdengar lebih nyaring.

69. Kadire'/Kaduri/Keluri

Kadire/kaduri/Keluri adalah termasuk alat musik tiup yang bentuknya menyerupai keledi terbuat dari tempurung kelapa, buah labu kering dan memiliki lima buah pipa bambu. Sumber bunyi kadire tidak diperoleh dengan meniup buah labu yang dikeringkan, melainkan tempurung kelapa. Tempurung kelapa ini berfungsi sebagai pengatur nada. Kadire dimainkan saat upacara adat masyarakat Dayak Kenyah,Kayan,Bahau,Penan (rumpun apau kayan).

70. Uding

Uding / Uring adalah suatu alat musik pukul yang terbuat dari batang bambu atau enai (aren) berdiameter 2 - 3 cm dengan panjang 20 cm dan memiliki rongga yang berisi sebuah biji kayu pada bagian ujungnya. 

Alat musik tradisional Uding atau Uring dari Kalimantan Timur ini, hampir sama dengan alat musik Karinding dari Jawa Barat atau genggong dari Bali. Cara memainkannya adalah dengan mendekatkannya ke dalam rongga mulut, kemudian dipukul/disentil dengan jari untuk menghasilkan nada. Variasi tinggi rendahnya nada yang dihasilkan adalah dengan memainkan / menggerakkan rongga mulut sehingga tercipta nada yang diinginkan. Uding memegang peranan penting untuk menghasilkan variasi bunyi nada yang lebih beragam sehingga menghasilkan aransemen musik yang lebih meriah.

71. Jatung Adau / Tuwung / Tubung / Prahil

Jatung adau merupakan alat musik membranofon dari Suku Dayak Kenyah yang tinggal di Kalimantan Timur. Alat musik tradisional Jatung Adau ini memiliki banyak sebutan/nama, Suku Dayak Modang menyebutnya Tuwung, Suku Dayak Kebahan menyebutnya Tubung, sedangkan Suku Dayak Tunjung menyebutnya prahil. Alat musik yang sejenis dengan kendang ini memiliki garis tengah 45 cm, dibagian ekor kurang lebih 25 cm dan panjang seluruhnya sekitar 250 cm. Alat ini dibuat dari kayu adau yang kuat, liat, dan tidak mudah pecah. Membrannya terbuat dari kulit lembu hutan atau kulit kijang yang kemudian diikat dengan menggunakan rotan dan ring pengikat yang disebut serapah.

Alat musik ini biasanya digunakan sebagai pengiring tari Belian, Jimamnugroho, dan Hudoq. Selain sebagai alat pengiring tari, Jatung Adau juga digunakan oleh suku kenyah untuk sebagai alat komunikasi seperti memberitakan kematian seseorang, tanda ketika terjadinya bencana, serta sebagai pengumuman jika ada anggota suku yang sakit keras. Walaupun Jatung Adau sifatnya bukan jenis alat musik Melodi akan tetapi peranya dalam aransement musik menjadi sebagai pengantar Rythe.


Kalimantan Utara

72. Rebab

Rebab merupakan alat musik gesek yang bisa ditemui di Provinsi Kalimantan Utara.  Rebab (Arab الربابة atau ربابة - "busur (instrumen)"), juga rebap, rabab, rebeb, rababah, atau al-rababa) adalah jenis alat musik senar yang dinamakan demikian paling lambat dari abad ke-8 dan menyebar melalui jalur-jalur perdagangan Islam yang lebih banyak dari Afrika Utara, Timur Tengah, bagian dari Eropa, dan Timur Jauh. Beberapa varietas sering memiliki tangkai di bagian bawah agar rebab dapat bertumpu di tanah, dan dengan demikian disebut rebab tangkai di daerah tertentu, namun terdapat versi yang dipetik seperti kabuli rebab (kadang-kadang disebut sebagai robab atau rubab).


Sulawesi Barat

73. Kecapi Mandar

Kecapi Mandar atau disebut juga kacaping tobaine yaitu alat musik tradisional yang berasal dari  Poliwali Mandar. Bentuk kecapi mandar ini sekilas seperti miniatur perahu. Dibuat dari kayu dan memiliki 2 dawai.

Kecapi Mandar ini sudah sangat langka dan saat ini hanya ada 2 orang yang masih memainkannya yaitu Satuni dan kakak perempuannya, Marayama, yang berusia sekitar 81 tahun.

Awalnya kecapi Mandar dimainkan untuk "pelipur lara" untuk individu di rumah-rumah, kemudian berkembang menjadi hiburan untuk acara-acara sunatan dan perkawinan. Kecapi dimainkan dari rumah ke rumah, lorong ke lorong.

Untuk lagunya, ada tiga tema besar yang dibawakan, yaitu Tolo (yang berisi cerita kepahlawanan), Tere (nyanyian pujian pada orang), dan Masala (nyanyian religi). Uniknya, lirik yang dibawakan tidak terbatas. Pemain kecapi bisa spontan membuat lirik berdasarkan apa yang dia lihat ketika tampil atau disesuaikan dengan tema acara.

74. Calong

Calong adalah alat musik tradisional yang berbahan dasar Buah Kelapa dan bambu . Biasanya alat musik Calong ini dimainkan secara solo, tetapi dalam perkembangannya mengalami kemajuan dan dapat dimainkan secara massal.

Hal ini dapat terlihat pada pagelaran Musik Calong Massal yang dipersembahkan pada Pembukaan Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Barat Pertama  yang dilaksanakan di Kabupaten Polewali Mandar tahun 2007. Bahkan yang tak kalah menariknya bahwa  alat musik inipun mulai dikolaborasikan dengan beberapa alat musik lainnya. Calong tidak jarang juga diusung ke atas  panggung pementasan musik secara kolaboratif.

75. Genggong Lima

Gongga lima adalah sebuah alat musik yang dibuat dari bambu, termasuk klasifikasi alat musik idiopon. Alat musik Gongga Lima dibunyikan dengan cara dipukulkan ke tangan.

Secara bahasa, alat musik gongga lima terdiri dari dua suku kata, yakni Gongga dan lima. Gongga diartikan sebagai alat itu sendiri sedangkan lima dalam bahasa Mandar adalah Tangan, jika dilihat dari pambagiannya, sangat memperjelas identitas serta eksistensinya yang menjelaskan bahwa  ke duanya membutuhkan satu sama lain.

Jenis Gongga lima  terdapat diwilayah balanipa hampir sama dengan alat musik parappasa dari Gowa Sulawesi Selatan, perbedaan Parappasa dengan Gongga lima  dapat dilihat dari penampilan alat itu, dalam pembuatannya bambu dibelah-belah kecil yang ukuran bilahannya hampir sama besar dengan pensil sehingga dalam penampilannya menyerupai sapu lidi, cara memainkannyapun tidak sama dengan Gongga lima, sebab ketika dimainkan alat ini dibenturkan kebenda lain untuk mendapatkan bunyi.


Sulawesi Selatan

76. Talindo / Popondi

Alat musik Talindo atau Popondi ini terbuat dari kayu, tempurung kelapa, dan senar. Talindo/Popondi merupakan alat musik jenis sitar berdawai satu (one stringed stick zilher). Tempurung kelapa berfungsi sebagai resonator. Alat musik ini dimainkan secara tunggal setelah para petani merayakan pesta panen dan untuk mengisi waktu senggang bagi para remaja.

Kata Tolindo adalah sebutan yang berasal dari daerah Bugis. Sedangkan kata Popondi adalah sebutan dari daerah Makasar.

Alat musik tradisional Talindo / Popondi berbentuk busur seperti tanduk kerbau atau tanduk sapi yang bertumpu pada sebuah tempurung kelapa, di ujungnya atas bagian tanduk dipasang 1 buah senar dan dimainkan dengan cara dipetik.

77. Gesok - Gesok

Alat musik tradisional dari Sulawesi Selatan selanjutnya masih merupakan alat musik dengan unsur senar/dawai yang dikenal dengan nama Gesok-Gesok. Alat musik ini terbuat dari kayu dan kulit binatang. Gesok-gesok adalah alat musik sejenis rebab dengan dua dawai. Alat musik ini berbentuk menyerupai jantung yang dilengkapi dengan tongkat untuk  menggesek. Alat musik gesok-gesok ini mirip dengan alat musik rebab dari Jawa Barat.

78. Ana Baccing

Alat musik Anna Baccing terbuat dari besi. Alat ini berbentuk seperti anak panah (runcing pada kedua ujungnya). Ana' baccing bagian dari sarana upacara ritual kerajaan pada masyarakat Karangpuang.

Alat musik ini merupakan bagian dari perangkat tarian Bugis, yaitu tari bissu yang dipertunjukkan saat upacara pernikahan, pelantikan dan kematian raja, saat terjadi wabah penyakit dan sebagai tanda dimulainya masa tanam padi. Prosesi tarian bissu diawali dengan gerakan Ma'dewata dan pembacaan mantera oleh Puang Towa (dukun) diiringi dengan seperangkat alat musik paseiya-seiya, genta, lalosu, dan beberapa alat dari logam.


Sulawesi Tengah

79. Tutuba

Tutuba adalah merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Sulawesi Tengah yang merupakan alat musik berdawai yang terbuat dari bambu. Tutuba adalah alat musik khas suku To Wana.

Suku Wana (To Wana), adalah penduduk asli di kawasan Wana Bulang yang berada di wilayah kabupaten Morowali, pemukiman berada di kecamatan Mamosolato, Petasia, dan Soyojaya, dan tedapat juga di wilayah pedalaman di kabupaten Luwuk Banggai  - Sulawesi Tengah. Suku Wana disebut juga sebagai Tau Taa Wana yang berarti "orang yang tinggal di hutan". Sedangkan mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai Tau Taa, atau "orang Taa".

80. Tatali

Tatali adalah alat musik tradisional yang berasal dari Sulawesi Tengah yang hampir sama dengan Suling. Tatali digunakan dengan cara ditiup dan alat musik ini termasuk alat musik tradisional khas suku To Wana. Dengan ukurannya yang mencapai 50 cm dan berdiameter 2 cm Tatali cukup sulit digunakan oleh pemula seperti kita.

Tatali mempunyai 3 lubang yang berguna untuk resolusi udara tempat kita meletakkan jari, tentunya hanya ada 3 pilihan nada dan tergantung kelihaian pemain untuk memainkan Tatali. Teknik meniupnya pun juga harus memakai perasaan agar suara yang dikeluarkan enak didengar.

81. Pare'e

Alat musik pare'e merupakan alat musik tradisional dari Sulawesi Tengah, berbentuk seperti garpu tala dan berfungsi sebagai alat hiburan diwaktu senggang dan dapat pula digunakan sebagai alat perkenalan atau pergaulan antar anggota kelompok masyarakat. 

Alat musik tradisional Pare'e ini dapat dimainkan dengan cara berdiri maupun duduk. Cara memainkan alat musik Pare'e adalah dengan cara dipukul-pukulkan pada telapak tangan. Alat musik ini biasanya berwarna kecoklatan sesuai dengan warna bambu yang sudah kering. Alat musik ini terbuat dari bahan buluh tui dan rotan. 


Sulawesi Tenggara

82. Kanda Wuta

Alat musik tradisional Kanda wuta adalah sebuah alat musik tradisional Sulawesi Tenggara yang dimainkan dencan cara dipukul dan digunakan untuk mengiringi tarian lulo. Alat musik Kanda Wuta ini sudah ada sejak abad ke-10. 

Sekitar abad ke-10 daratan Sulawesi Tenggara memiliki dua kerajaan besar yaitu kerajaan Konawe (wilayah Kabupaten Konawe) dan Kerajaan Mekongga (Wilayah Kabupaten Kolaka) secara umum kedua Kerajaan ini serumpun dan dikenal sebagai suku Tolaki. Suku tolaki memiliki beragam seni tari diantaranya adalah tarian lulo dengan iringan musik kanda-kanda wuta.

Alat musik Kanda Wuta ini dibuat dari kayu, tanah liat, rotan dan pelepah sagu.

83. Ba'asi

Baasi adalah merupakan alat musik tradisional Sulawesi Tenggara yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara ditiup.


Sulawesi Utara

84. Kolintang

Alat musik Kolintang adalah alat musik tradisional yang terkenal di daerah Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Bahan untuk membuat alat musik tradisional kolintang ini adalah kayu. Ada Kolintang yang dibuat dari bahan kayu bernama kayu bandaran, kayu wenang, dan lain sebagainya. Umumnya kayu yang dibuat untuk membuat Kolintang ini adalah kayu-kayu ringan, namun memiliki serat kayu yang padat. Alat musik kolintang dimainkan dengan cara dipukul. Bahkan Kolintang ini terkenal dapat mengeluarkan bunyi yang khas karena bisa digunakan untuk mengeluarkan bunyi nada rendah maupun nada tinggi. Salah satu fungsi Kolintang adalah mengiringi tari tradisional dari Sulawesi Utara yaitu Tari Lenso dan Tari Tatengesan.

85. Salude

Alat musik yang identik dengan Sulawesi Utara adalah Kolintang. Namun sebenarnya masih ada alat musik tradisional yang menjadi ciri khas masyarakat Minahasa. Namanya adalah Salude.

Salude adalah sejenis alat musik tradisional yang dibuat dari seruas bambu. Pada bagian tengah badan bambu terdapat lubang yang memiliki fungsi sebagai resonator dan diatasnya dipasang 2 senar yang juga dibuat dari serat ari bambu. 

Cara membunyikan alat musik salude adalah dengan cara dipetik atau dipukul dengan pelepah pinang. Alat musik Salude ini merupakan alat musik sejenis  sitar tabung yang termasuk dalam kelompok ido-kardofon.


Maluku Utara

86. Bambu Hitada

Musik Bambu Hitada adalah merupakan sebuah bentuk pertunjukan seni musik tradisi hasil kreatifitas masyarakat Halmahera di Halmahera Maluku Utara yang berfungsi sebagai hiburan, maupun kelengkapan upacara,seperti upacara perkawinan atau upacara syukuran.

Adapun dalam pertunjukan musik bambu hitada menggunakan beberapa alat musik tradisional yang dikenal masyarakat Maluku Utara antara lain bambu hitada sendiri, cikir, juk dan biola tradisional.

Bambu hitada sendiri dibuat dari ruas -ruas bambu (biasanya terdiri dari 2 ruas) dengan panjang sekitar 1,75 m. Ruas bambu ini diberi lubang sehingga menghasilkan nada (tone). Antara satu bambu dengan bambu lainnya diberi lubang yang berbeda sehingga menghasilkan nada yang berbeda-beda pula. Agar tampilan bambu hitada ini lebih menarik, maka bagian luar bambu dicat warna warni.

Batang bambu dibunyikan dengan cara dibanting tegak lurus di tanah atau bila di atas ubin harus dialas dengan karung goni.


87. Cikir

Cikir merupakan sebuah alat musik tradisional yang juga digunakan pada pertunjukan musik bambu hitada dari Halmahera Provinsi Maluku Utara. Alat musik cikir ini cukup sederhana, dibuat dari batok kelapa yang masih utuh (bulat) dan didalamnya diisi dengan beberapa batu kerikil.

Alat musik tradisional cikir ini dibunyikan dengan cara digoyangkan sehingga benturan antara kerikil dan batok bambu akan menghasilkan bunyi.

88. Leko Boko

Juk/ Leku Boko adalah alat musik tradisional dari Maluku Utara yang terbuat dari kayu. Juk atau leku boko adalah alat musik petik sejenis gitar. Pada awalnya, senar juk dibuat dari usus kuskus atau kucing hutan.namun saat ini senar juk telah menggunakan empat utas senar dari plastik.

 Leku boko dimainkan bersama dengan heo (biola bersenar empat). Leku boko berperan sebagai pemberi harmoni, sedangkan heo berperan sebagai pembawa melodi. Selain digunakan pada pertunjukan seni musik bambu hitada, alat musik tradisional dari Maluku Utara ini juga digunakan  untuk memeriahkan pesta adat, sebagai musik pengiring tarian, lagu-lagu daerah dan pantun.

Selengkapnya : Alat Musik Maluku Utara

Maluku

89 Tahuri

Tahuri adalah alat musik dan komunikasi yang dikenal didaerah pesisir kepulauan Maluku. Alat musik ini terbuat dari kulit kerang dan dibunyikan dengan cara ditiup. jika ditiup bunyinya akan terdengar nyaring. Semakin kecil ukuran kerangnya, semakin nyaring bunyinya dan semakin besar kerangnya bunyinya pun semakin rendah.

Pada awalnya alat musik tahuri berfungsi sebagai alat komunikasi antara raja dan masyarakat, antara Raja dengan staf-staf negeri. Kemudian dalam perkembangannya tahuri juga berfungsi :


  1. Beberapa tata cara adat masih menggunakan Tahuri sebagai pemandu berlangsungnya acara adat istiadat.
  2. Salah satu benda arkeologi.
  3. Salah satu alat musik tradisional masyarakat Maluku
  4. Sebagai cendramata atau souvenir baik untuk lokal maupun non lokal.

90. Jukulele


Jukulele adalah alat musik tradisional yang dapat ditemui di Provinsi Maluku. Alat musik ini terbuat dari kayu dan kulit binatang.

Jukulele atau juk termasuk alat musik petik  berdawai 4 dan di stem dengan nada 5,1,3,6 (sol, do, mi, la).

 
Jukulele merupakan salah satu alat musik yang berasal dari Portugis dan telah dipergunakan oleh masyarakat Maluku sejak abad 15 sehingga saat ini sudah menjadi bagian alat musik tradisional Maluku.

Jukulele berfungsi sebagai pengiring musik Hawaian, keroncong dan lain-lain. Modifikasi jukulele kayu ke tempurung kelapa merupakan hasil masyarakat setempat.


Selengkapnya : Alat Musik Maluku

91. Rumba

Rumba adalah sejenis alat musik yang terbuat dari kayu dan buah labu. Rumba adalah alat musik ritmis yang digolongkan dalam jenis perkusi.

Rumba merupakan alat musik khas Cuba, kemungkinan dibawa ke Ambon oleh pedagang Spanyol atau Portugis. Rumba terbuat dari tempurung kelapa yang diisi dengan pasir kasar atau batu kecil-kecil dan diberi pegangan dari kayu, kemudian digoyang-goyang mengiringi irama lagu gembira.

Rumba dimainkan secara berpasangan sebagai pengiring musik Hawaian.

Gorontalo

92. Palopo

Polopalo adalah alat musik tradisional dari Gorontalo. Alat musik ini terbuat dari bambu dengan bentuk mirip dengan garputala. Alat musik sejenis dapat pula kita temui misalnya alat musik tradisional Sulawesi Barat Gongga Lima, atau alat musik tradisional Sulawesi Selatan Parappasa.

Polopalo dimainkan dengan cara dipukulkan pada lutut atau bagian tubuh lain para pemainnya. Umumnya, instrumen ini dimainkan bersama-sama dalam pertunjukan tari tradisional khas Gorontalo.

Untuk menghasilkan ritme yang unik, pada perkembangannya Polopalo dimodifikasi sehingga terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan ukurannya. Ada 3 jenis Polopalo, yaitu yang berukuran besar, sedang, dan kecil. Semakin kecil ukuran Polopalo, semakin tinggi nada yang dihasilkannya. Selain itu kini Polopalo dibuatkan sebuah pemukul dari kayu yang dilapisi karet agar mempermudah dan membantu dalam proses memainkan alat musik Polopalo. Hal ini memberikan dampak, selain anggota tubuh tidak sakit, bunyi yang dihasilkanpun semakin nyaring.


93. Ganda

Alat musik ganda Gorontalo adalah sejenis alat musik pukul mirip dengan alat musik gendang yang telah kita kenal. Alat musik ganda Gorontalo ini terbuat dari kayu dan memiliki dua sisi yang terbuat dari kulit binatang.

94. Gambusi

Alat musik tradisional Gorontalo lainnya yang dikenal adalah Gambusi. Alat musik gambusi merupakan alat musik gambus yang bisa kita temukan pula di Provinsi lain di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Alat musik gambusi memiliki 9 senar dan dibunyikan dengan cara dipetik.


Selengkapnya : Alat Musik Gorontalo

Papua

95. Tifa

Tifa adalah nama alat musik tradisional dari Indonesia Timur khususnya Maluku dan Papua. Alat musik tradisional yang satu ini terbuat dari kayu yang dilubangi tengahnya serta salah satu ujungnya ditutup dengan menggunakan kulit binatang. Kulit binatang yang digunakan untuk membuat tifa biasanya adalah kulit rusa. Cara memainkan tifa hampir sama dengan kendang, yaitu dengan cara dipukul.

Tifa terdiri dari beberapa macam yaitu  Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas.

Alat musik tifa dipergunakan untuk mengiringi tarian perang seperti Tari Gatsi dari suku Asmat.

96. Triton

Triton merupakan alat musik tradisional dari Papua yang terbuat dari kulit kerang. Triton dimainkan dengan cara ditiup. Alat musik ini terdapat di seluruh pantai, terutama di daerah Biak, Yapen, Waropen, Nabire, Wondama, serta kepulauan Raja Amat. Pada awalnya, alat musik triton hanya digunakan untuk sarana komunikasi atau sebagai alat panggil/ pemberi tanda. Selanjutnya, triton juga digunakan sebagai sarana hiburan dan alat musik tradisional.


97. Pikon

Alat musik Pikon merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari tanaman sejenis bambu. Alat musik ini dibunyikan dengan cara ditiup. Pikon berasal dari bahasa Baliem yaitu dari kata Pikonane yang berarti alat musik bunyi. Pikon yang ditiup sambil menarik talinya ini hanya akan mengeluarkan nada-nada dasar, berupa do, mi dan sol.


Selengkapnya : Alat Musik Papua

Papua Barat

98. Guoto

Alat musik tradisional dari Papua Barat yang dikenal dengan nama Guoto adalah merupakan alat musik petik yang terbuat dari kulit binatang lembu. Alat musik Guoto dibunyikan dengan cara dipetik pada senar/dawainya.

99. Yi

Sama seperti halnya triton, alat musik tradisional YI pada awalnya digunakan sebagai alat komunikasi yaitu berfungsi untuk memanggil penduduk. Namun seiring perkembangan, yi digunakan pula untuk mengiringi tarian daerah Papua. 

Alat musik tradisional yi, adalah alat musik tiup yang dibuat dari kayu dan bambu.


100. Krombi

Alat musik ini terbuat dari bambu. Krombi merupakan salah 1 alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian pada pesta adat masyarakat Papua. Alat musik ini biasanya dimainkan dengan menggunakan sebuah kayu kecil lalu diketuk-ketuk pada bambu tersebut

Selengkapnya : Alat musik Papua Barat

Demikian Sahabat Tradisi, informasi mengenai 100 Alat Musik Tradisional Indonesia. Semoga bermanfaat.



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Alat Musik Daerah Indonesia Bag.2"

Posting Komentar