Tradisi Membangun Rumah Masyarakat Jawa

Rumah adalah tempat tinggal bagi manusia yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia untuk kelangsungan hidup. Setiap orang ingin selalu mempunyai rumah sendiri, walaupun tidak begitu mewah atau megah tapi sederhana itu sudah cukup bagi seseorang. Rumah dianggap sangat diperlukan dalam hidup orang, Bisa dikatan rumah sebagai kebutuhan primer.

Selain memiliki keunikan dengan berbagai jenis rumah adat, ternyata masyarakat Indonesia juga memiliki keunikan tersendiri dalam proses pembuatan / membangun rumah tersebut.

Sebut saja rumah joglo yang merupakan rumah adat masyarakat Jawa. Selain memiliki bentuk dan pembagian ruangan yang sarat dengan filosofi dan makna, ternyata prosesi pembuatan rumah joglo juga tidak sembarangan.

Masyarakat Jawa memiliki tradisi tersendiri dalam membangun rumah tersebut. Tradisi tersebut dilakukan secara turun temurun karena mereka meyakini dalam pembuatan rumah tidak hanya harus memperhitungkan segi finansial atau biaya pembuatan rumah saja. Akan tetapi masih ada sisi lain yang harus diperhitungkan seperti, siapa yang akan membangun rumah, bentuk rumah, hari memulai pembangunan rumah dan sesaji apa saja yang harus dipersiapkan dalam pembuatan rumah.

Tradisi Banguna Rumah "Munggah Molo"

Didalam tradisi atau tatanan budaya Jawa sangat detail mengatur tentang bagaimana tata cara dalam mempersiapkan tempat tinggal salah satunya dengan adanya Upacara Adat “Munggah Molo”. Upacara adat ini sebenarnya merupakan hasil akulturasi budaya antara Jawa dan Islam. Didalam adat Jawa Kuno masyarakat juga memberikan sesaji ketika membangun rumah sebagai representasi rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rizki. Setelah masyarakat Jawa banyak memeluk Agama Islam, UpacaraAdat ini tetap dipertahankan namun dengan menambahkan adanya doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT.

Munggah Molo merupakan upacara adat yang namanya diambil dari dua kata dalam Bahasa Jawa yakni ‘Munggah’ yang berarti menaikan dan ‘Molo’ yang berarti kerangka atap. Seperti namanya, Upacara Adat Munggah Molo ini dilakukan ketika proses pembangunan sebuah rumah akan memasuki tahap pemasangan kerangka atap.

Dalam upacara adat ini, juga terdapat beberapa Ubarapme khusus (persyaratan dan bahan) yang didalamnya juga mengandung arti filosofis luhur yang sangat menarik untuk dipelajari.


Ubarampe Munggah Molo (Persyaratan/Bahan) dan Maknanya

Dalam rangkaian pelaksanaan Upacara Adat Munggah Molo, pemilik rumah diharuskan untuk menyiapkan beberapa Ubarampe khusus yang kemudian akan dipasang di pusat atap/cungkup dari rumah yang akan dibagun. Ubarampe tersebut diantaranya:

Tebu yang dicabut dari pangkalnya

Memiliki makna sebagai harapan dan doa agar keluarga yang nantinya menempati rumah senantiasa beristiqamah dalam melakukan kebaikan layaknya pangkal tebu yang tegak menopang batang tebu.

Pari Sak Wit (satu ikat padi kuning)

Memiliki makna sebagai harapan dan doa agar keluarga dapat menggapai kejayaan dan kemakmuran kemudian setelah mencapai kemakmuran tersebut, layaknya padi yang semakin menguning dan berisi semakin menunduk (tawadhu’) tidak sombong

Kelapa

Sama halnya dengan tanaman kelapa yang setiap bagian tubuhnya memiliki manfaat, keluarga yang menempati rumah baru ini juga diharapkan dapat menjadi keluarga yang kuat dan dapat bermanfaat untuk sesama (rahmatan lil ‘alamin)

Bendera Merah Putih

Ubarampe berupa bendera sebenarnya baru ada ketika awal Indonesia merdeka. Sebagi wujud nasionalisme dari masyarakat Jawa dan rasa syukur kepada Tuhan yang telah menganugerahkan kemerdekaan sehingga dapat memiliki tanah air sebagai tempat tinggal maka ditambahkanlah bendera merah putih pada upacara Adat Munggah Molo ini.

Duit Kricik (uang koin)

Dalam masyarakat zaman dahulu, bentuk uang yang digunakan masih berbentuk uang koin loga, sehingga adat ini masih terpelihara sampai sekarang dengan menggunakan uang koin sebagi ubarampe. Uang melambangkan modal finansial yang dimiliki oleh keluarga yang akan menempati rumah dan sebagai harapan agar Tuhan senantiasa melimpahkan rizki yang berkah kepada keluarga.

Jajanan Pasar, ayam panggang, dan pisang.

Sebagai panjatan rasa syukur, si pemilik rumah baru juga diharuskan untuk berbagi jajanan pasar, ayam panggang, dan pisang kepada masyarakat sekitar. Selain untuk menyambung silaturahmi dengan tentangga, nilai saling berbagi dan berkomunikasi dengan tetangga yang sangat kental dalam adat Jawa juga dapat terus dilestarikan dengan membagikan makanan ytersebut.

Pakaian keluarga

Melambangkan setiap anggota keluarga harus selalu menjaga akhlaqul karimah dengan menutup aurat, selain itu juga diharapkan Tuhan selalu memberkahi kelurga dengan kecukupan kebutuhan sandang.

Kendi , Pakumas (paku warna emas), kayu salam dan daun salam

Ubarampe yang diwadahkan dalam kendi inimengandung makna berupa harapan keselamatan dari Allah SWT kepada keluarga.

Payung 

Pemasangan payung memiliki makna dan harapan agar tuhan semesta alam dapat melindungi dengan rahmat Nya.

Setelah syarat-syarat tersebut sudah ada kemudian keluarga memanggil tokoh agama untuk mendoakan dan memimpin prosesi adat tersebut, dan diakhiri makan bersama para tukang bangunan dan masyarakat sekitar.

Tradisi Munggah Molo Tradisi Syirik?

Ada perbedaan pendapat dikalangan masyarakat mengenai status tradisi munggah molo dan sejenisnya mengenai hukumnya apakah termasuk syirik atau tidak. Sebagian yang menyatakan tradisi ini bukan tradisi syirik karena menganggap bahwa tidak ada penyimpangan dalam tradisi ini, bahkan cenderung seiring sejalan dengan Islam karena tradisi munggah molo dianggap sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata'ala. Bahkan didalam tradisi ini terkandung nilai Nasionalisme dan nilai sedekah bumi.

Namun sebagian lainnya dengan didasari oleh beberapa dalil dengan tegas menyatakan bahwa tradisi ini merupakan perbuatan bid'ah dan syirik. Hal ini terutama didasari dari tujuan utama dilakukannya tradisi munggah molo dan sejenisnya dimana sebagian masyarakat menganggap bahwa tradisi ini bisa memberikan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan bagi orang yang akan menempati rumah tersebut. Dan didalam Islam, jika kita mempercayai ada kekuatan yang lain selain Allah jelas itu hukumnya syirik.

Kemudian jika tujuan dan niat dari penyediaan sesajen adalah untuk meminta keselamatan, kelancaran membangun rumah, kekuatan rumah dan hal-hal baik lainnya yang merupakan permintaan  (do'a), hal ini masuk kedalam tatacara ibadah.

Dan syarat ibadah harus ikhlas dan sesuai dengan contoh dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan perbuatan ini adalah amalan yang berkaitan dengan ibadah yang tidak ada contohnya berarti ini adalah perbuatan bid’ah. Dan perbuatan bid’ah haram dilakukan oleh seorang muslim.

عن عَائِشَةُ أَنَّ رَسُولَ الله -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Barangsiapa yana beramal dengan sebuah amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka amalannya tertolak.” HR. Muslim.

Demikian Sahabat Tradisi, tradisi membangun rumah masyarakat Jawa. Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran.

Rujukan artikel :

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tradisi Membangun Rumah Masyarakat Jawa"

Posting Komentar