Tari Baksa Kembang

Tari Baksa Kembang | TradisiKita - Tari Baksa Kembang adalah tarian klasik Banjar yang ditampilkan untuk menyambut tamu Agung yang datang ke Kalimantan Selatan. Tarian ini bisa dilakukan oleh penari tunggal namun juga bisa dilakukan oleh beberapa penari wanita yang jumlahnya ganjil

Tari Baksa Kembang merupakan tari daerah Kalimantan Selatan. Dan pada kesempatan ini, TradisiKita akan memberikan informasi mengenai Tari klasik Banjar yang pada awalnya hanya dilakukan dilingkungan kerajaan.

Tari Baksa Kembang

Secara umum tarian ini menggambarkan Para Putri yang anggun, cantik yang sedang bermain - main di taman bunga yang dengan riangnya mereka memetik bunga - bunga itu lalu membawanya dengan menari - nari dengan sambil dirangkai menjadi kembang bogam. Lalu bagaimana sejarah atau asal usul tari baksa kembang? mari kita simak penjelasan dibawah ini

Tari Baksa Kembang
Tari Baksa Kembang | Gambar : sumber.com

Asal Usul Tari Baksa Kembang

Menurut cerita, Tari Baksa Kembang sudah ada sejak zaman kerajaan negara Dipa dan Daha, Yaitu sekitar abad ke 13. Pada jaman kerajaan Majapahit ada seorang Empu Jakmika melakukan perjalanan itu mencari sebuah negri yang tanahnya berbau harum. menurut pentunjuk yang ia dapat, negeri itu berada diseberang pulau yaitu di pulau Kalimantan. Didalam perjalanan itu tentunya ia tidak sendiri, ia ditemani oleh beberapa abdi. Setelah ditemukan negeri yang dimaksud, maka didirikanlah sebuah kerajaan Dipa, dimana di dalamnya kerajaan tersebut berkembang kebudayaan atau kesenian Jawa yang beradaptasi dengan kebudayaan setempat, sehinga unsur-unsur tari klasik di Kalimantan Selatan hampir banyak mempunyai kesamaan dengan kesenian Jawa.

Sejak kerajaan Dipa dan Daha sampai dengan kerajaan Banjar mundur, pusat pemerintahan selalu berpindah-pindah, sehingga kesenian klasik di Istana mulai turun kemasyarakat dan berkembang serta diwariskan secara turun-temurun sari generasi kegenerasi berikutnya.Di Istana, kesenian menghasilkan aneka corak seni klasik Banjar yang beradaptasi dengan kebudayaan Jawa, sedangkan diluar istana tumbuh dan berkembang kesenian rakyat, namun saat kerajaan Banjar kesenian-kesenian di Istana mulai dikembangkan atau mulai turun kemasyarakat atas binaan Pangeran Hidayatullah(1866).

Hal ini terjadi karena beliau membuka istana sseluas-luasnya, sehingga terjadi interaksi antara kesenian keraton dengan kesenian rakyat seperti madihin, jepen, qasidah, dan sebagainya. Sehingga sekitar tahun 190 keatas, kesenian Banjar lebih banyak dan beragam.

Dahulu, kisah yang berkembang adalah kisah yang diambil dari kisah Pangeran Suria Wangsa Gangga dari negara Dipa dengan Putri Kuripan. kisah itu menceritakan Putri Kuripan mempersembahkan setangkai bunga teratai merah kepada sang Pangeran, sedangkan bunga teratai putih tetap dipegangnya.Bunga taratai adalah sebagai lambang kesetian, namun dalam berkembangan nya akibat dari mulut kemulut dan menyebar dari istana kehalayak ramai, tarian ini lebih dikenal dengan menceritakan seorang putri yang sedang merakai bunga, menjadi suatu rangkaian bunga yang disebut Bogam dan diserahkan kepada seorang jejaka yang dicintainya serta dihormatinya.

Fungsi dan Makna Tarian Baksa Kembang


Tari Baksa Kembang berfungsi sebagai tari penyambutan tamu-tamu kehormatan yang datang ke lingkungan kerajaan dan pada saat ini lingkupnya lebih luas yaitu Provinsi Kalimantan Selatan.

Tari ini merupakan tari selamat datang pada tamu agung dengan menyampaikan untaian bunga. Adapun makna tari Baksa Kembang menggambarkan tentang putri-putri remaja yang cantik sedang bermain-main di taman bunga. Mereka memetik beberapa bunga kemudian dirangkai menjadi kembang bogam kemudian kembang bogam ini mereka bawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai.

Pertunjukan Tari Baksa Kembang

Tari Baksa Kembang sebenarnya merupakan tarian tunggal. Akan tetapi saat ini banyak ditarikan pula oleh kelompok penari wanita dengan jumlah yang ganjil dengan menggunakan berbagai properti seperti selendang dan sepasang kembang Bogam yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Kembang bogam ini akan dihadiahkan kepada tamu diakhir tarian.

Selain bunga, properti yang digunakan oleh penari Baksa Kembang yaitu memakai Mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam berukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama halilipan.

Tari ini dahulunya digelarkan dengan waktu yang tidak terbatas dan ragam yang berulang-ulang, tetapi pada perkembangannya oleh penata-penata tari, tari Baksa Kembang ditata apik dan disesuaikan dengan tuntutan jaman serta keperluan masyarakat sesuai situasi dan kondisi tampa mengurangi khasanah dalam sebuah Tari Baksa Kembang

Kostum Pakaian Penari Baksa Kembang

Para penari Baksa Kembang menggunakan pakaian khas suku Banjar Kalimanta Selatan yang dilengkapi dengan berbagai aksesoris tarian.

Pakaian dan Aksesoris yang digunakan oleh penari Baksa Kembang antara lain :

  • Bogam
  • Gamuling
  • Halilipan
  • Kembang Goyang
  • Mahkota Pancar Matahari
  • Anting Barumbai
  • Sepasang Gelang
  • Ikat Pinggang
  • Gelang kaki giring-giring
  • Kilat bahu
  • Kida-kida
  • Baju kudak
  • Selendang
  • Tapih Air Guci

Musik Pengiring Tari Baksa Kembang


Pertunjukan tari Baksa Kembang dilakukan dengan diiringi dengan gamelan yang beriarama lagunya yang sudah baku,yaitu seperti Lagu Ayakan, Jangklong atau sering disebut Kambang Murni dan Parang Lima Ketawang. Adapun alat musik yang digunakan untuk mengiringi lagu dan tari Baksa Kembang merupakan alat musik tradisional Kalimantan Selatan antara lain :

  • Babun
  • Sarun
  • Sarantan
  • Dau 
  • Kanong
  • Kangsi
  • Gong Kecil
  • Gong Besar
Demikian Sobat Tradisi, informasi mengenai tari Baksa Kembang dari Kalimantan Selatan. Semoga bermanfaat.

Referensi :
  • http://arinadyahnastiti.blogspot.com/2013/05/tari-klasik-baksa-kambang.html
  • https://budaya-indonesia.org/Tari-Baksa-Kambang

Belum ada Komentar untuk "Tari Baksa Kembang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel