Motif Batik Yogyakarta

Batik Yogyakarta atau batik yogya atau juga disebut Batik Jogja merupakan kain batik dengan motif khas daerah Yogyakarta. Masyarakat Indonesia sudah mengenal kain batik Yogya dan Batik Solo. Bahkan apabila disebut nama batik, maka yang terbayang adalah batik Yogya atau Solo ini.

Terkenalnya batik yogyakarta ini tidak dipungkiri karena bila kita menelusuri perjalan perkembangan batik di tanah Jawa tidak akan lepas dari perkembangan seni batik di Jawa Tengah (Solo) dan Yogyakarta ini.

Lalu bagaimana dengan Sejarah Batik Yogyakarta, Corak Batik Yogyakarta dan Apa Ciri Khas Batik Yogyakarta ini? mari kita cari tahu bersama.

Sejarah Batik Yogyakarta

Sejarah perkembangan batik Yogyakarta tak akan lepas dari bagaimana sejarah kerajaan Mataram Islam yang dibangun oleh Panembahan Senopati. Selama perjuangan guna mendirikan Kerajaan Mataram, Panembahan Senopati sering bertapa dan melakukan pengembaraan ke berbagai tempat.

Berdasarkan pengembaraan tersebut, maka beliau banyak melihat berbagai macam kondisi alam di Pulau Jawa. Seperti kebudayaan, hewan, tumbuhan, serta pemandangan. Hingga kemudian, beliau mulai menuangkan hal-hal tersebut ke dalam bentuk gambar di atas kain.

Salah satu contoh gambarnya adalah pemandangan Pantai Selatan. Deburan ombak yang terus menghantam barisan karang dan tebing ini menjadi inspirasi pola Motif Parang. Dimana kemudian, motif Parang juga dijadikan sebagai salah satu busana kerajaan.

Lalu bagaimana sejarah batik Yogyakarta bisa berbeda dengan batik Solo?

Ciri Khas “Batik Yogya” berawal dari perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Di desa Giyanti, perundingan itu berlangsung. Yang hasilnya antara lain , Wilayah Mataram dibagi dua, satu bagian dibawah kekuasaan Sri Paduka Susuhunan PB II di Surakarta Hadiningrat , sebagian lagi dibawah kekuasaan Kanjeng Pangeran Mangkubumi yang setelah dinobatkan sebagai raja bergelar Ngersa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senopati ing Ngalaga Ngabdul Rachman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang jumeneng kaping I , yang kemudian kratonnya dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Setelah kerajaan Mataram terbelah dua, dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri, busana Mataram diangkut dari Surakarta ke Ngayogyakarta maka Sri Susuhunan Pakubuwono II merancang busana baru dan pakaian adat Kraton Surakarta berbeda dengan busana Yogya.

Ciri Khas Batik Yogyakarta

Ciri khas batik gaya Yogyakarta , ada dua macam latar atau warna dasar kain. Putih dan Hitam. Sementara warna batik bisa putih (warna kain mori) , biru tua kehitaman dan coklat soga. Sered atau pinggiran kain, putih, diusahakan tidak sampai pecah sehingga kemasukan soga, baik kain berlatar hitam maupun putih. Ragam hiasnya pertama Geometris : garis miring lerek atau lereng , garis silang atau ceplok dan kawung , serta anyaman dan limaran.Ragam hias yang bersifat kedua non-geometris semen , lung- lungan dan boketan.Ragam hias yang bersifat simbolis erat hubungannya dengan falsafah Hindu – Jawa ( Ny.Nian S Jumena ) antara lain :

  • Sawat Melambangkan mahkota atau penguasa tinggi , 
  • Meru melambangkan gunung atau tanah ( bumi ) , 
  • Naga melambangkan air , 
  • Burung melambangkan angin atau dunia atas , 
  • Lidah api melambangkan nyala atau geni.

Berbagai Motif Batik Yogyakarta

Batik yogya memiliki karakteristik atau ciri khas pada motifnya. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa berbagai motif batik yogyakarta memiliki falsafah hidu - jawa. Berikut ini beberapa motif batik yogyakarta bersama maknanya.

Motif Batik Yogyakarta


1. MOTIF BATIK YOGYAKARTA - "KAWUNG"

Motif batik Kawung konon diyakini diciptakan oleh salah satu Sultan Mataram, dan merupakan salah satu anggota Motif Larangan di samping 7 (tujuh) motif larangan lainnya seperti Parang, Parang Rusak, Cemukiran, Sawat, Udan Liris, Semen, dan Alas-alasan. Kawung juga termasuk desain yang sangat tua, terdiri dari lingkaran yang saling berinterseksi. Motif Batik Kawung dikenal di Jawa sejak abad 13 yang muncul pada ukiran dinding pada beberapa kuil/candi di Jawa, seperti Prambanan dan daerah Kediri. Selama bertahun-tahun, patra ini dilindungi hanya untuk keluarga kerajaan Kraton. Lingkaran-lingkaran, terkadang diisi dengan dua atau lebih tanda silang atau ornamen lain seperti garis-garis berpotongan atau titik-titik.

Pada awalnya batik kawung hanya dipakai di kalangan keluarga kerajaan, tetapi setelah Negara Mataram dibagi menjadi dua yaitu Surakarta dan Yogyakarta, maka batik kawung dikenakan oleh golongan yang berbeda. Di Surakarta batik kawung dipakai oleh golongan pangakat punakawan dan abdi dalem jajar priyantaka, sedangkan di Yogyakarta batik kawung dipakai oleh sentana dalem. Ada beberapa jenis motif batik kawung, antara lain kawung picis, kawung bribil, dan kawung sen.  Kawung picis diambil dari nama uang pecahan 10 sen, kawung bribil diambil dari nama uang pecahan 25 sen, sedangkan untung kawung sen diambil dari nama uang pecahan 1 sen


Sebagaimana kita mengenal buah aren atau kolang-kaling, buah tersebut berwarna putih yang tersembunyi di balik kulitnya yang keras. Hal ini dalam masyarakat Jawa mengandung filosofi bahwa kebaikan hati kita tidak perlu diketahui oleh orang lain. Disamping itu, pohon aren dari atas (ujung daun) sampai pada akarnya sangat berguna bagi kehidupan manusia, baik itu batang, daun, nira, dan buah. Hal tersebut mengisaratkan agar manusia dapat berguna bagi siapa saja dalam kehidupannya, baik itu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Makna lain yang terkandung dalam motif kawung ini adalah agar manusia yang memakai motif kawung ini dapat menjadi manusia yang ideal atau unggul serta menjadikan hidupnya menjadi bermakna.

2. MOTIF BATIK YOGYAKARTA - "PARANG KUSUMO" 

Batik Parangkusumo berasal dari kata “kusumo” yang artinya kembang atau bunga yang dikaitkan dengan kembanging ratu. Sesuai dengan namanya, batik Parangkusumo hanya dipakai oleh kalangan keturunan raja secara turun-temurun bila berada didalam keraton.
Motif batik Parangkusumo terdiri dari unsur motif api dan motif mlinjon. Motif-motifnya tersusun menurut garis diagonal, motif api atau motif parang posisinya bertolak belakang dengan motif mlinjon yang berbentuk segi empat belah ketupat. Di tengahtengah motif api terdapat dua motif bunga kecil yang bertajuk tiga dan saling bertolak belakang. Motif batik parang kusuma biasanya digunakan untuk busana pengantin Kasatrian Ageng. Pengertian bunga sama dengan kusuma yang mempunyai makna generasi muda bunga harapan, Jika dirasakan dengan arti perlambangnya memang sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai busana putra-putri Sultan yang semula digunakan untuk malem selikuran, sekarang menjadi busana pengantin. Batik ini berkembang pada masa Penembahan Senopati Mataram pada abad XVI.



3. MOTIF BATIK YOGYAKARTA - "TRUNTUM" 

Motif Batik Truntum merupakan motif batik Yogyakarta yang digunakan pada saat pernikahan. konon merupakan salah satu motif bersejarah yang dibuat sendiri oleh salah satu istri Sultan Yogyakarta. Sang permaisuri yang merasa kesepian membatik sambil melihat bintang. Dia pun menggubah bintang-bintang di langit menjadi motif batik yang indah. Melihat karya sang permaisuri, Sultan kembali jatuh cinta padanya. Inilah sebabnya motif ini dinamakan tumaruntum yang berarti cinta yang bersemi kembali. Truntum bisa juga diartikan menuntun, sehingga batik motif Truntum biasa digunakan orang tua mempelai pada saat upacara pernikahan. Hal ini merupakan simbolisasi dari peran orang tua dalam menuntun anaknya menapaki kehidupan rumah tangga. Truntum ceplok Gurdo sendiri adalah pengembangan dari truntum yang dimodifikasi dengan motif Gurdo, salah satu motif sakral dalam lingkungan keraton.



4. MOTIF BATIK YOGYAKARTA - "TAMBAL"

Motif batik tambal merupakan motif batik Yogyakarta yang sangat unik.  Tambal yang menjadi nama motif batik Yogyakarta ini bermakna menambal atau memperbaiki hal-hal yang rusak. Batik motif Tambal sendiri ini memiliki makna yang cukup mendalam terkait dengan kehidupan manusia sejak zaman dahulu hingga sekarang. Uniknya lagi kain batik bermotif tambal ini dipercaya mampu membantu kesembuhan orang yang sakit. Caranya adalah dengan menyelimuti orang sakit tersebut dengan kain motif Tambal.

Warna-warna yang terdapat pada batik Tambal diperoleh dari kombinasi warna gelap dan warna terang. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukan dan menonjolkan detail motif yang ada dalam kotak-kotak motif tambal itu sendiri. Ciri khas dari batik Tambal bisa dilihat dari detail motif yang digunakan untuk membuat batik jenis Tambal ini. Diantaranya berupa motif Ceplok, motif Parang maupun motif Peru. Oleh para desainer batik, motif tersebut didesain kembali menjadi kotak-kotak sehingga terciptalah batik tambal yang kita kenal seperti saat ini. Ciri khas lainnya yaitu kerokan yang bisa dengan mudah ditemukan pada jenis batik ini.



5. MOTIF BATIK YOGYAKARTA - "PAMILUTO"

Motif batik Yogyakarta Pamiluto umumnya dipakai ketika melangsungkan upacara pertunangan. Kata Pamilut berasal dari kata Pamilut yang artinya perekat. Makna dari motif batik ini adalah agar pasangan calon pengantin saling terikat sehingga mereka bisa menjaga hubungan dengan baik sampai pada waktu pernikahan tiba.

Demikian Sobat Tradisi, Ragam Motif Batik Yogyakarta yang bisa kami informasikan. Semoga bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Motif Batik Yogyakarta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel