Tari Piso Surit, Penantian Panjang Sang Burung Pincala

Tari Piso Surit adalah sebuah tari tradisional Sumatera Utara. Tarian ini menggambarkan seorang pria yang sedang menantikan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan sehingga digambarkan seperti burung pincala yang sedang memanggil manggil.

Pada artikel kali ini, TradisiKita akan menggali informasi mengenai tari tradisional Sumatera Utara yang dikenal dengan tarian Piso Surit.

1. Asal Kata Piso Surit


Piso dalam bahasa Karo sebenarnya berarti pisau, akan tetapi piso disini bukan merupakan nama sejenis pisau khas budaya batak karo. Sebenarnya Piso Surit adalah kicau burung yang suka bernyanyi. Kicau burung ini bila didengar secara saksama sepertinya sedang memanggil-manggil dan kedengaran sangat menyedihkan. Burung Piso Surit biasanya berkicau di sore hari. Jenis burung tersebut dalam bahasa karo disebut "pincala" bunyinya nyaring dan berulang-ulang dengan bunyi seperti "piso serit". Kicau burung inilah yang di personifikasi oleh Komponis Nasional dari Taneh Karo Djaga Depari dari Desa Seberaya, Kabupaten Karo.

2. Pencipta Tari Piso Surit

Seperti yang telah disinggung diatas, bahwa tari Piso Surit ini diciptakan oleh Djaga Depari. Piso Surit adalah lagu dan syair karya Djaga Depari dalam bahasa Karo, dengan lagu yang bernuansa tradisional Karo dan dikemudian hari dibuatkan tariannya yang dikenal dengan tarian Piso Surit.

Berkat kepiawaian Djaga Sembiring Depari menciptakan lagu-lagu berbasis lagu Karo, Moralitas Masyarakat Karo,Perkembangan zaman, adat-istiadat Karo, romantisme sampai kehidupan perjuangan masyarakat Karo semasa merebut kemerdekan dari tangan penjajah pada masa lalu, sehingga sang maestro dianugrahkan gelar sebagai komponis nasional Indonesia, dan kini untuk lebih mengenang jasa-jasa dia, maka dibangun sebuah monumen Djaga Depari, di Persimpangan antara Jl Patimura, Jl. Sultan Iskandar Muda dan Jl. Letjen Djamin Ginting Medan.

3. Fungsi dan Makna Tari Piso Surit


Tari Piso Surit ini merupakan jenis tarian selamat datang atau tari penyambutan. Sehingga tarian ini lebih difungsikan sebagai tarian untuk menyambut tamu agung atau tamu kehormatan yang datang ke tanah Karo.

Sedangkan makna tarian ini sudah dijelaskan diatas, yaitu apabila  dilihat dari gerakannya, Tari Piso Surit ini menggambarkan seseorang yang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut digambarkan bagaikan seekor burung piso surit yang berbunyi seakan memanggil-manggil.

4. Pertunjukan Tari Piso Surit

Tari Piso Surit ini biasanya ditampilkan secara berkelompok antara penari pria dan penari wanita. Namun ada juga yang hanya menampilkan penari wanita saja. Untuk jumlah penari biasanya terdiri dari lima pasang penari atau lebih, tergantung kelompok masing-masing serta acara yang akan dibawakan. Dalam pertunjukannya, penari menggunakan busana adat dan menari dengan diiringi oleh alunan musik tradisioal Sumatera Utara.

Gerakan dalam Tari Piso Surit ini cenderung lemah gemulai dan banyak bagian-bagian yang seperti dilakukan berulang-ulang, walaupun sebenarnya berbeda. Gerakan tersebut diantaranya adalah gerakan kaki menjinjit, gerakan berputar, melentikan jari, gerakan naik turun, dan gerakan lainnya. Apabila diperhatikan baik-baik setiap gerakan dalam tarian tersebut tentunya memiliki makna khusus di dalamnya.

5. Pengiring Tarian Piso Surit


Tari Piso Surit yang merupakan kekayaan budaya masyarakat Karo Sumatera Utara ditarikan dengan diiringi oleh alunan musik tradisional Karo dan syair lagu Piso Surit.

Lagu ini seharusnya dinyanyikan oleh seorang pria. Dari rangkaian lirik lagunya, lebih dapat kesan sang penyanyi adalah seorang pria. Lirik lagu ini juga memberikan kesan bagaimana cara Orang Karo jaman dulu berpacaran.

Lirik lengkap lagu Piso Surit 


Piso Surit Piso Surit

terdilo-dilo terpingko-pingko
lalap la jumpa ras atena ngena

Piso Surit Piso Surit
terdilo-dilo terpingko-pingko
lalap la jumpa ras atena ngena

i ja kel kena tengahna gundari
siangna menda turang atena wari
entabeh naring mata kena tertunduh
kami nimaisa turang tangis teriluh

nggo nggo me dagena mulih me gelah kena
bage me nindu rupa ari agi kakana

tengah kesain keri lengetna
remang mekapal turang seh kel bergehna
tekuak manuk ibabo geligar
enggo me selpat turang kite-kite ku lepar

Piso Surit Piso Surit
terdilo-dilo terpingko-pingko
lalap la jumpa ras atena ngena

nggo nggo me dagena mulih me gelah kena
bage me nindu rupa ari agi kakana
nggo nggo me dagena mulih me gelah kena

bage me nindu rupa ari agi kakana

6. Kostum Penari Piso Surit

tari piso surit

Untuk kostum yang digunakan para penari dalam pertunjukan Tari Piso Surit ini biasanya adalah busana adat Karo, lengkap dengan “uis” atau kain khas Karo. Untuk penari pria biasanya menggunakan baju kemeja panjang dan celana panjang. Serta uis atau kain khas Karo yang digunakan sebagai gonje(sarung), mahkota, selendang (uis nipes) dan benting (ikat pinggang). Sedangkan penari wanita biasanya mengenakan kebaya serta berbagai macam uis yang dikenakan sebagai abit (kain panjang bawah), tudung (penutup kepala) dan selendang.

7. Video Tari Piso Surit




Demikian Sobat Tradisi, informasi atau sinopsis mengenai tari piso surit yang merupakan tarian masyarakat Karo Sumatera Utara. Semoga bermanfaat.

Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Piso_Surit

0 Response to "Tari Piso Surit, Penantian Panjang Sang Burung Pincala"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel