Makna dan Filosofi dari Pakaian Adat Lampung

Makna dan Filosofi dari Pakaian Adat Lampung | TradisiKita -Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi yang ada di Pulau Sumatera, terletak di ujung paling timur dari Pulau Sumatera. Masyarakat Lampung asli memiliki struktur adat yang tersendiri. Bentuk masyarakat hukum adat tersebut berbeda antara kelompok masyarakat satu dengan yang lainnya. Secara umum dapat dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu masyarakat adat Saibatin dan masyarakat adat Pepadun

Suku bangsa Lampung yang beradat Saibatin (Pesisir) terdiri dari :

  • Kepaksian Sekala Brak
  • Keratuan Melinting
  • Keratuan Balau
  • Keratuan Darah Putih
  • Keratuan Semaka
  • Keratuan Komering
  • Cikoneng Pak Pekon


Suku bangsa Lampung yang beradat Pepadun (Pedalaman) dapat digolongkan menjadi :

  • Abung Siwo Mego (Abung Sembilan Marga)
  • Mego Pak Tulang Bawang (Tulang Bawang Empat Marga)
  • Pubian Telu Suku (Pubian Tiga Suku)
  • Buay Lima Way Kanan (Way Kanan Lima Kebuayan)
  • Sungkay Bunga Mayang


Berdasarkan pembagian penduduk yang serba mendua ini maka Lampung dikenal sebagai Propinsi Sang Bumi Ruwa Jurai yang dapat diartikan “Bumi Yang Dua Dalam Kesatuan.”

Pada artikel yang telah lalu, kita sudah mengetahui mengenai pakaian adat Lampung. Masyarakat Lampung memiliki pakaian adat yaitu yang menjadi ciri khas Lampung. Pakaian tersebut dikenakan sebagai baju adat sehari-hari dan juga pada saat upacara adat serta pakaian pengantin adat Lampung.

Bahwa dalam pakaian adat Lampung terdapat beberapa aksesoris  dan unsur yang menjadi pelengkap wajib busana adat Lampung. Aksesoris tersebut memiliki makna dan filosisfi sebagaimana dibawah ini :


Siger

Sebagai Mahkota Adat Putri Lampung, terbuat dari bahan logam berwarna kuning keemasan, berbentuk gerigi lancip dan diatasnya berlekuk – lekuk. Dikenakan di kepala sebagai mahkota kehormatan / keagungan dan kebesaran adat yang dipakai pada upacara – upacara adat / begawi, maupun penobatan gelar atau acara – acara resmi menyambut tamu agung kenegaraan.

Pada Siger Pepadun terdapat 9 jurai yang melambangkan 9 marga asal Lampung. Konon pada zaman sebelum masehi di Skala Berak (pada saat penyebaran penduduk di Asia) di Bukit Pesagi terdiri dari kerajaan – kerajaan kecil, tapi mereka kalah oleh penduduk asli (suku tumi), di Bukit Pesagi itu terdapat pohon (meransa kepampang) yang disembah oleh suku tumi, pohon ini sejenis pohon nangka yang getahnya beracun, akarnya di atas dan daunnya dibawah sehingga membuat suku tumi tersebut mengusir para pendatang. Yang mengalahkan suku tumi tersebut adalah 9 orang dari perwakilan marga– marga, dari ke 9 orang tersebut 2 orang mati dan 7 orang selamat. Untuk menghormati mereka maka pada siger pepadun dibuat 9 puncak – puncak. Tapi pada siger pesisir hanya terdapat 7 puncak, konon dikarenakan mereka hanya menghitung orang yang kembali saja


Kopiah emas

Seperti siger, kopiah emas juga dipakai dikepala pengantin. Bedanya, kopiah ini dipakai oleh pria. Berbahan kuningan bertahta hiasan karangan bunga, penutup kepala ini bentuknya seperti kopiah bulat ke atas dan ujungnya beruji-ruji tajam.



Ikat Pujuk/ Kikat Akinan


Merupakan ikat kepala dari kain, biasa dipakai oleh pria. Karena ujungnya berbentuk lancip sehingga disebut pujuk (pojok). Ikat kepala ini dulu merupakan pakaian orang yang sudah tua. Kalau bujang biasanya memakai Pandan atau Peci yang diikat oleh hiasan seperti duri berbentuk daun pandan.
Ada beberapa cara mengikat kain ini sehingga menjadi ikat kepala, diantaranya :
Gulos Kirik (Gula Merah), kain tersebut diikat dari depan, segi tiganya
dibelakang, dipakai oleh orang tua yang sudah turun jabatan atau kedudukan.
Punai Meghem (Burung Sedang Mengeram), kain diikat dari samping kanan dan segitiganya disamping kiri, ikat ini merupkan pakaian penyimbang yang maksudnya sebagai pelindung bagi rakyat / muridnya.
Tanjak, kain tersebut diikat dari belakang dan segi tiga atau lancipnya ada di depan.

Bellatung

Sebuah sanggul yang berbentuk malang, dikarenakan pada zaman dahulu wanitanya berambut panjang dan jika bersisir dililitkan menjadi seperti angka delapan atau memalang.

Gharu

Merupakan hiasan sanggul berbentuk siger kecil yang dibawahnya terdapat sisir untuk ditusukkan di sanggul. Tapi sekarang gharu ini bisa juga tanpa sisir melainkan ditusukan seperti tusuk konde. Gharu ini dulu dipakai sebagai pakaian sehari – hari yang melambangkan kecantikan dan keanggunan seorang wanita.

Kembang Melati/ Kembang Melur

Sebuah hiasan sanggul yang dililitkan di atas sanggul penari, terbuat dari kertas atau kain yang berbentuk kembang melati dan berarti suci dan murni. Kembang melati ini dimaksudkan untuk menambah keindahan dan kecantikan penari.

Peneken

Sebenarnya Peneken ini tidak termasuk pakaian adat, tetapi dalam perkembangannya dibuat sebagai penahan siger agar tidak lepas dan merusak dandanan. Penekan merupakan hiasan kepala wanita/putri baik yang tidak mengenakan maupun mengenakan Siger atau Pesangko. Hiasan ini terbuat dari kain buludru yang berhiaskan pernak pernik.

Bebe

Nama salah satu unsur pakaian adat putri lampung yang berbentuk daun bunga teratai berwarna putih, yang dikenakan sebagai penutup bahu dan dada. Bebe ini ada setelah Indonesia merdeka, dulu pakaian yang dipakai hanya kain sampai ke dada seperti kemben jawa, tapi setelah perkembangan zaman masyarakat memakainya untuk kesopanan sebagai penutup aurat juga untuk menambah keindahan sebuah pakaian.

Gelang Bibit

Gelang ini dipakai pria maupun wanita, berbentuk lingkaran pipih dan tipis terbuat dari logam berwarna kuning keemasan. Dikatakan bibit karena gelang ini berada paling awal dari pergelangan tangan, dimana bibit itu sendiri berarti mula, awal atau benih. Awalnya ukiran yang terdapat pada gelang ini tidak berlubang– lubang tapi sekarang untuk menambah keindahan gelang ini ukirannya dibuat berlubang– lubang.

Gelang Ruwi

Sebuah gelang yang dipakai bersama– sama dengan gelang bibit, kano dan gelang burung oleh pria maupun wanita, terbuat dari logam berbentuk gerigi seperti kulit durian berwarna kuning keemasan. Gelang ini dipakai setelah gelang bibit yang melambangkan keberanian dalam menjaga keamanan dan sebagai penangkis jika ada penjahat yang menyerang.

Gelang Kano

Gelang ini tercipta karena pengaruh dari agama hindu, yang dipakai baik pria maupun wanita. Gelang ini lebih besar dari gelang ruwi, berbentuk belah rotan terbuat dari bahan logam berwarna kuning keemasan, Gelang ini melambangkan kejayaan, kekayaan dan kegagahan.

Gelang Burung

Sebuah gelang adat pria dan wanita, yang dipakai di bahu seperti ikat bahu pada tarian jawa tradisional, berbentuk seekor burung terbuat dari logam kuning keemasan. Gelang ini melambangkan kebebasan, dipakai di atas lengan karena burung biasanya ada di atas. Gelang ini ada karena pengaruh dari agama hindu.

Pending

Sebuah ikat pinggang yang berukir burung merak melambangkan kekuasaan, keagungn dan kewibawaan, dipakai oleh pria dan wanita. Pending ini ada karena pengaruh dari derah luar Lampung, tetapi tidak diketahui dengan jelas dari mana asal muasal sebenarnya dikarenakan hampir seluruh daerah di Indonesia mempunyai ikat pinggang seperti ini.

Bulu Serette

Sejenis ikat pinggang, yang dipakai oleh pria, dan mempunyi fungsi sebagai pengikat untuk keamanan pakaian agar rapih. Terbuat dari kain buludru yang dihiasi bundaran keemasan dimana bundaran tersebut ada 7 atau 9 buah yang melambangkan status sosial si pemakai. Tetapi sekarang telah dimodifikasi dengan motif – motif ornament keemasan lainnya. Bulu serette ini berasal dari Lampung asli sejak kerajaan Tulang Bawang.

Buah Jukun

Merupakan Aksesoris asli Lampung yang ada sejak kerajaan Tulang Bawang. Buah Jukun adalah kalung adat berupa rantai berbentuk bulat bergerigi yang dipakai oleh para pria dan wanita, terbuat dari bahan logam berwarna kuning keemasan. Dinamakan Buah Jukun konon disebabkan karena bentuknya seperti batang jukun yang berduri – duri dan mempunyai maksud sebagai lambang kekuasaan si pemakai dalam mempersatukan masyarakatnya, dulu semakin banyak seseorang memakai Buah Jukun ini maka semakin tinggi status sosialnya.

Papan Jajar/ Bulan Temanggal

Sebuah kalung bersusun tiga yang terbuat dari logam keemasan. Kemungkinan kalung ini berasal dari pendatang / daerah lain, karena kalung ini sama dengan kalung dari daerah – daerah lain di luar Lampung. kalung ini melambangkan pertahanan diri.

Selapai

Merupakan pakaian adat putri / wanita, semacam kain selendang yang diselempangkan dari bahu. Sebenarnya selapai ini dulu terdiri dari kain selendang Jung Sarat, Kain Cindai, Kain Sebagi, Kain Putih atau Merah, Hitam dan Kuning, yang keseluruhannya disebut Selapai Pa’. Kain – kain tersebut melambangkan status sosial seseorang, semakin banyak seseorang memakainya maka semakin tinggi status sosialnya. Selapai ini berasal dari Kerajaan Tulang Bawang.

Selempang Pinang

Merupakan Selapai yang diselempangkan saling melintang. Sekarang selempang mengalami perubahan bentuknya, perubahan itu terjadi sesudah kemerdekaan kira-kira pada tahun lima puluhan. Konon perubahan ini terjadi dikarenakan pada zaman Penjajahan Jepang dimana pada saat itu barang – barang habis, dan untuk melengkapi barang – barang tersebut tidak ada sehingga dibuatlah yang lebih praktis, sekarang bentuknya terbuat dari logam kecil – kecil ditambah dengan pecahan kain – kain yang dipakai menyelempang.

Sabik Inuh

Sebuah kalung lampung asli yang dipakai oleh pria dan wanita, berbentuk bulat telur yang bergandengan, terbuat dari logam berwarna kuning. Kalung ini melambangkan kebulatan tekad, kesatuan dan mudah pikiran.

Pengunten/ Tepak

Sebuah peralatan tari sembah yang dibawa oleh salah seorang penari, sebagai tempat sekapur sirih yang disuguhkan kepada salah satu tamu agung / pejabat tinggi yang hadir dalam upacara tersebut. Sebagai sarana perkenalan, penghormatan dan penymbutan dalam tata cara Lampung. Terbuat dari logam berbentuk kotak kuning keemasan.

Pangsi

Sebuah celana polos berwarna hitam, putih atau apa saja berbentuk komprang atau longgar setinggi dibawah lutut. Dibuat komprang / longgar agar langkah menjadi bebas, dulu celana ini dipakai sebagai pakaian sehari hari.

Belah Buluh

Sebuah baju polos warna hitam atau putih atau warna apa saja, bentuknya hampir berupa teluk belanga, tapi baju ini terbelah seluruhnya sampai bawah, kemungkinan dikarenakan di daerah lampung merupakan daerah tropis / panas maka dibuatlah pakaian yang lebih praktis dan mudah dibuka. Dulu pakaian ini merupakan pakaian sehari – hari orang Lampung.

Kawai Putuk dan Tilang

Merupakan sebuah baju putih yang berlengan pendek bernama Kawai Putu’, sedang yang berlengan panjang disebut Kawai Tilang . di Pepadun Kawai Tilang dipakai oleh anak Sutan sedangkan Kawai Putu’ dipakai oleh orang biasa.

Tanggai

Tanggai artinya jari, agar jari kelihatan indah dan lentik maka dibuatlah hiasan dari logam keemasan untuk menutupi jari tersebut. Tanggai melambangkan kehalusan dan kecantikan dari putri – putri raja. Tanggai ini berasal dari pengaruh agama Hindu.

Tapis

Sejenis kain tenun asli berbenang emas warna – warni, merupakan unsur kelengkapan pakaian adat. Kain ini dikenakan terutama oleh kaum wanita saat upacara – upacara adat perkawinan maupun penobatan gelar.

Demikian Sobat Tradisi, macam-macam unsur dalam busana adat Lampung serta makna dan filosofi pakaian adat Lampung. Semoga bermanfaat.

Referensi :
http://malahayati.ac.id/?p=18805
Loading...


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Makna dan Filosofi dari Pakaian Adat Lampung"

Posting Komentar