6 Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat

Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Nusa Tenggara Barat terletak di dalam gugusan Sunda Kecil dan termasuk dalam Kepulauan Nusa Tenggara. Provinsi yang biasa disingkat NTB ini memiliki 10 Kabupaten/Kota, dengan Ibukota terletak di Mataram.

Pada masa kejayaan kesultanan Bima, banyak sekali tarian dan kreasi seni yang diciptakan. Secara umum, tarian tradisional Bima dibagi dalam tiga kelompok, YaItu Tari klasik Istana atau yang dikenal dengan Mpa’a Asi, Tarian Rakyat atau Mpa’a Ari Mai Ba Asi, serta tarian Donggo. Tarian Donggo adalah tarian yang dikreasi oleh masyarakat Donggo dan ditujukkan untuk upacara-upacara Adat. Sampai dengan saat ini tarian tersebut terus berkembang di Provinsi Nusa Tenggara Barat . Beberapa tarian bahkan  ada yang menjadi tari tarian khas NTB yang menjadi daya tarik pariwisata dari Provinsi ini. Dari berbagai tarian yang terdapat di Nusa Tenggara Barat, kali ini tradisikita akan merangkum 6 tari tradisional Nusa Tenggara Barat. Dan berikut adalah penjelasan dan gambar tari tarian daerah Nusa Tenggara Barat tersebut :

1. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Oncer

Tari Oncer adalah tarian khas suku sasak yang ada di daerah Lombok Nusa Tenggara Barat. Tarian Oncer diciptakan oleh Muhammad Tahir di desa Puyung, Lombok Tengah pada tahun 1960. 

Tari Oncer merupakan tarian bersama yang dimainkan oleh 3 kelompok. Masing - masing adalah kelompok penari kenceng yang terdiri dari 6 - 8 orang penari yang membaca kenceng, 2 orang pembawa gendang disebut penari gendang, dan 1 orang pembawa petuk yang disebut penari petuk.

Tarian Oncer tidaklah berdiri sendiri karena diakhir bagian ada gamelan Gendang Beleq dipukul sambil menari. Tarian Oncer terdiri atas tiga bagian yakni bagian pertama menggambarkan peperangan. Semua penari menari bersama-sama dengan gerakan-gerak tari tertentu. Yang pertama adalah gerak tinduk yakni gerak melangkah yang menggambarkan keberangkan ke medan perang, dalam gerakan ini gerak mengangkat kaki yang ditonjolkan. Kedua adalah gerak bukaq jebak, artinya membuka pintu. Gerakan ketiga adalah kadal nengos artika kadang yang menengok. Gerakan ini berarti suatu tanda kewaspadaan terhadap musuh dengan selalu melihat ke kiri kekanan serta kemuka dan belakang. Yang selanjutnya adalah gerak rebek taping dan tereq repoq. Dalam bagian ini diperagakan gerak bambu yang setengah tumbang karena tiupan angin. Nah, jika bagian pertama tarian diisi dengan cukup banyak gerakan, di bagian kedua dan ketiga tidak seperti itu. Di bagian ketiga inilah dilukiskan kondisi setelah usai perang yang ditandai dengan gerakan cempaka panclang (cempaka berguguran), keroton kombol (kembang sepatu kuncup) dan sandal kebak (kembang sandat yang mekar). Tari oncer dapat ditarikan oleh laki-laki atau perempuan, tetapi perannya tetap laki-laki. 

Alat musik yang digunakan tetabuhan Gendang Beleq adalah ceng-ceng, suling, rincik, gong, reong, dan gendang kecil. Menurut sejarah, konon Gendang Beleq baisa dipertunjukkan pada pesta kerajaan yang mengiringi pasukan yang berangkat perang atau datang dari medan perang. Kini, Gendang Beleq dijadikan sebagai tari penyambutan tamu, dan mempunyai struktur penyajian dengan diawali masuknya 2 orang penari gendang sehingga menampakkan tarian ini sangat gagah dan dinamis. Kemudian masuklah 4 hingga 6 penari oncer, sementara penari gendang mengambil posisi di samping kanan kiri sebagai latar belakang. Kemudian penari Oncer mengambil posisi duduk sambil menyanyi lagu Pampang Paoq. Diakhir tarian, penari Oncer keluar diikuti para penari gendang.

2. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Lenggo

Tari Lenggo adalah salah satu tari tradisional yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Pada awalnya tari lenggo ini merupakan tarian klasik yang hanya ditampilkan dilingkungan istana kerajaan Bima.
Tari Lenggo dapat dilakukan oleh penari pria dan penari wanita. Apabila ditarikan oleh penari wanita disebut dengan Tari Lenggo Mbojo. Sedangkan apabila ditarikan oleh para penari pria, disebut tari lenggo melayu. Para penari baik pria maupun wanita mengenakan kostum berupa pakaian tradisional Bima.

Tari Lenggo yang pertama kali diciptakan adalah Tari Lenggo Melayu. Tari Lenggo Melayu ini diciptakan oleh seorang mubalig dari Sumatera barat bernama Datuk Raja Lelo. Tarian ini awalnya diciptakan khusus untuk upacara adat Hanta Ua Pua yang diselenggarakan di Bima. Tari Lenggo Melayu ini dibawakan oleh para penari pria, sehingga masyarakat Bima menyebutnya Tari Lenggo Mone.
Terinspirasi dari Tari Lenggo Melayu tersebut, Sultan Abdul Khair Sirajuddin kemudian menciptakan sebuah tari yang dibawakan oleh penari putri yang dinamakan Tari Lenggo Mbojo, atau disebut juga Tari Lenggo siwe. Gerakan dalam Tari Lenggo Mbojo ini merupakan hasil kreasi dan pengembangan dari Tari Lenggo Melayu. Tari Lenggo Mbojo ini kemudian sering ditampilkan dalam acara adat Hanta Ua Pua, yaitu upacara peringatan masuknya agama Islam di Bima, NTB.

Dalam pertunjukannya, Tari Lenggo di iringi oleh musik tradisional dari Bima, yaitu gendang besar(gendang na’e), silu (sejenis serunai), gong dan tawa-tawa. Untuk mengiringi Tari Lenggo ini biasanya diiringi dengan musik berirama lembut atau pelan selaras dengan gerakan para penari.

Dalam perkembangannya, Tari Lenggo ini masih sering dipertunjukan sebagai bagian dari upacara Hanta Ua Pua. Selain itu, Tari Lenggo juga sering ditampilkan di berapa acara seperti penyambutan tamu penting dan festival budaya. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari usaha pelestarian dan memperkenalkan budaya dan tradisi yang ada di Bima, NTB.

3. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Rudat

Tari Rudat adalah tari tradisional yang berasal dari Suku Sasak yang bertempat tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tari Rudat dari Lombok Nusa Tenggar Barat ini ditampilkan untuk menyambut tamu dan acara-acara resmi pemerintahan. 

Dalam hal gerakan, tari rudat ini merupakan tari pencak silat. Hal ini dikarenakan dalam tarian rudat ini ada berbagai macam gerakan pencak silat seperti memasang kuda-kuda, memukul, menendang dan menangkis.

Tari Rudat berasal dari Turki dan menyebar ke Indonesia bersamaan dengan penyebaran agama Islam. Tari Rudat masuk ke Indonesia abad ke 15 bersamaan dengan penyebaran agama islam di Indonesia. Pada tahun 1987 sering dijumpai tari Rudat yang ditampilkan dipinggir jalan raya mengiringi pengantin pria yang bejalan bersama rombongan menuju rumah mempelai wanita.

Tari Rudat Nusa Tenggara Barat (NTB) dibawakan oleh 13 orang penari lelaki dengan mengenakan pakaian ala prajurit. Para penari mengenakan baju berlengan panjang warna kuning, dan celana selutut berwarna biru serta mengenakan kopiah panjang. Para penari Rudat dipimpin oleh seorang penari yang mengenakan mahkota dan membawa pedang.

Tari Rudat NTB diiringi musik melayu yang dimainkan dari alat - alat musik tradisional berupa rebana, mandolin, biola dan jidur. Pertunjukan Tari Rudat terdiri dari pembukaan ucapan tabik (hormat/permisi) yang berbunyi: Tabik tuan-tuan, tabik nona-nona, mulailah bermain di hadapan tuan-tuan melihat keramaian, kemudian bershalawat (puji-pujian kepada Nabi) dan dilanjutkan dengan penutup (permintaan maaf jika ada salah ucap dan tingkah saat menari)

Tari Rudat NTB biasanya ditampilkan pada acara Maulid Nabi Muhammad, Isra Mi'raj, Khataman Alqur'an, Idul Fitri dan pada perayaan hari-hari besar agama Islam lainnya.

4. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Sere


Tari Sere pada jaman dahulu merupakan tari klasik Istana Bima. Tari Sere dari Bima Nusa Tenggara Barat ini  diciptakan oleh Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Tari Sere dari NTB dimainkan oleh dua orang perwira kesultanan, bersenjatakan tombak dan perisai. Dengan wajah perkasa serta keberanian yang membara, dua perwira melompat dan berlari ke segala penjuru, berenjatakan tombak menyerang dan menangkis serangan musuh. Sebagai pancaran menghadapi musuh – musuh Dou Labo Dana (Rakyat dan Negeri). Para penari selalu melakukan gerakan melompat sambil berlari, oleh sebab itu tari ini diberinama mpa’a sere , yang berarti melompat sambil berlari (sere).

Tari Sere diiringi musik tambu (tambur). Hingga kini, Tari Sere masih tetap eksis, dan selalu digelar/dipertunjukkan pada saat penyambutan tamu-tamu penting pada acara-acara Pemerintah maupun perayaan Hanta UA PUA di Nusa Tenggara Barat.

5. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Gendang Beleq


Tari Gendang Beleq adalah salah satu tarian dari Lombok, dinamakan demikian karena memakai gendang yang sangat besar. Kesenian Gendang Beleq sudah menjadi tradisi di Suku Sasak sejak lama dan merupakan kesenian peninggalan Kerajaan Selaparang Lombok yang menguasai sebagian wilayah pulau Lombok bagian timur pada zaman kerajaan Anak Agung.

Disebut Gendang Beleq, karena menggunakan Gendang berukuran besar yang dalam bahasa sasak disebut Beleq. Kesenian Gendang Beleq, awal masuknya di pulau Lombok, digunakan oleh para tokoh agama untuk menyebarkan islam di daerah ini. Saat itu, kesenian ini dimainkan untuk mengumpulkan warga, yang akan diberikan ceramah agama maupun kegiatan keagamaanlainnya.


Untuk memainkan kesenian ini membutuhkan kekompakan dalam kelompok, sehingga harus dimainkan secara utuh. Musik yang dimainkan, tari yang ditampilkan dalam kesenian Gendang Beleq, menggambarkan jiwa satria masyarakat Suku Sasak Lombok dalam mempertahankan daerahnya.


Pada zaman kerajaan Selaparang, biasanya tari Gendang Beleq dipentaskan untuk melepas prajurit ke medan perang. Tujuannya, agar para prajurit yang akan berlaga di medan pertempuran tetap bersemangat dan bergairah untuk membela daerahnya saat itu. Demikian juga setelah prajurit pulang dari medan pertempuran, disambut kesenian Gendang Beleq di pintu masuk desa, sebagai rasa syukur atas perjuangan mereka. Tradisi Gendang beleq masih dilakukan hingga saat ini untuk menyambut tamu undangan.

6. Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat - Tari Gandrung Lombok

 Tari Gandung merupakan tarian rakyat yang berkembang ditiga daerah, yaitu Banyuwangi (lihat: Tari Gandrung Banyuwangi), Bali dan Lombok. Tari Gandrung dari ketiga daerah tersebut memiliki kemiripan, namun demikian masing-masing juga memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Demikian pula dengan tari gandrung lombok, Nusa Tenggara Barat.

Tari Gandrung terkenal dilingkungan masyarakat sasak sebagai tarian yang dilakukan oleh seorang wanita dengan iringan puisi (lelakaq), nyanyian (sandaran) dan  seperangkat gamelan (sabarungan ). Gandrung  menunjukan suka cita dan harapan bersama masyarakat sasak dan dipentaskan sebagai sebuah ekpresi simbolis dari masyarakat sasak yang dilakukan dalam perayaan desa setelah masa panen padi.

I Wayan Karyawirya menyatakan dalam tulisannya Tari Gandrung Lombok (1993/1994) bahwa tari gandrung berasal dari Banyuwangi, kemudian menyebar lewat Bali dan akhirnya sampai di Lombok.  Tari Gandrung Lombok dimainkan oleh dua orang penari wanita, biasanya dilakukan pada malam hari bertepatan dengan paska panen padi. Para penari Gandrung Lombok mengenakan pakaian khusus tarian yang terdiri dari beberapa unsur yaitu :
1. Gegelung
2. Gempolan
3. Bapang
4. Stagen dan seret
5. Elaq elaq
6. Gonjer / Gegonjer

 Demikian sobat TradisiKita, 6 tari tradisional Nusa Tenggara Barat (NTB) yang bisa kita rangkum, semoga menambah wawasan Sobat semua. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya..

 Referensi :
1. http://lombok.panduanwisata.id/kegiatan-dan-aktivitas/mengenal-tari-oncer-tarian-dengan-gerakan-ikan-sepat-berenang/
2. http://www.negerikuindonesia.com/2015/09/tari-lenggo-tarian-tradisional-dari.html
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Rudat
4. http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2494/tari-gandrung-simbolisasi-budaya-masyarakat-sasak-di-lombok

Loading...


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "6 Tari Tradisional Nusa Tenggara Barat"

Posting Komentar